Minat Baca Bangsa Indonesia Rendah

Minat Baca Bangsa Indonesia Rendah

 

MINAT baca masyarakat Indonesia dinilai masih rendah. Indikator lemahnya minat baca tersebut dapat dilihat dari ratio perbandingan penduduk dengan jumlah surat kabar.

Menurut Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia, Sabarudin Tain, perbandingan penduduk dan surat kabar di Indonesia jangat jomplang. Berdasarkan pendataan terakhir pada tahun 1999, lanjut dia, perbandingannya mencapai 1:43. ” Artinya ,jumlah penduduk mencapai 207 juta jiwa, sedangkan jumlah surat kabar hanya 4,8 juta,” ujarnya disela-sela acara seminar dan lokakarya ‘Pemberdayaan Komunitas Minat Baca Menuju Masyarakat Jawa Barat Cerdas’, pekan lalu di Sukabumi.

Sabarudin menuturkan, perbandingan tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga atau negara asia lainnya. Pada tahun 1995, lanjut dia, perbandingan penduduk dan surat kabar di Malaysia hanya 1:8,1. Apalagi di negara jepang, rasionya hanya mencapai 1:1,74. ” Dengan negara India saja, Indonesia masih kalah. Di India rationya tersebut bisa mencapai 1:38,4,” paparnya.

Kata Sabarudin, rendahnya minat baca atau tidak adanya minat baca di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain, kata dia, yaitu lingkungan yang tidak mendukung. Baik itu di rumah tangga, sekolah maupun pergaulan. Selain itu, lanjut dia, bisa juga disebabkan oleh sarana bacaan yang terbatas. Perpustakaan sekolah dan pribadi tidak tersedia. ” Bisa juga rendanya minat baca ini disebabkan oleh materi bacaan yang tidak menarik, tidak ada budaya membaca dan juga rendahnya minat dan daya beli,” ungkapnya.

Akibatnya, lanjut Sabarudin, posisi Indonesia dari aspek penilian Human Development Indek (IPM), pada tahun 2003 menempati urutan yang cukup rendah. Indonesia, kata dia, menempati posisi nomor 112 dari 175 negara. Begitu juga, lanjut dia, dari kategori The Politic Economic Risk Constitution (PERC) 2003.

Indonesia, lanjut dia, menempati posisi ke 12 dari 12 negara. ” Artinya, Indonesia menempati peringkat yang terakhir dari 12 negara yang ada,” paparnya.Menurut Sabarudin, sekarang ini tercipta masyarakat yang tidak kritis dan cerdas. ” Membuat masyarakat kita tidak obyektif, sulit dipersatukan dalam bertukar pikiran dan berbeda pendapat,” imbuhnya. Dan juga terciptanya masyarakat sok tahu dan cepat pikun pada masa usia tua. (Sumber : Koran Republika, 24 September 2004)

http://kmbi.blogspot.com/2006/10/minat-baca-bangsa-indonesia-rendah.html

Belum ada komentar

Leave a reply